Hikayat Abu Nawas dan Botol Ajaib-Tugas Bahasa Indonesia Muhammad Rofi Dzakwanyafi XF
Hikayat Abu Nawas dan Botol ajaib
Dikisahkan ada
seseorang yang bernama Abu Nawas yang selalu di jebak oleh rajanya dengan
berbagai macam pertanyaan.
Pada suatu hari Abu Nawas
kembali dipanggil oleh baginda raja ke istana, setelah tiba di istana raja langsung berbicara
kepada Abu-nawas“Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib
pribadiku, aku kena serangan angin.”
“Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil.”
tanya Abu Nawas.
“Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya.”
Kata sang raja
Abu Nawas hanya diam, la tidak memikirkan
bagaimana cara menangkap angin nanti tetapi ia masih bingung bagaimana cara
membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benar angin,karena angin tidak bisa dilihat berbeda dengan air walaupun tidak berwarna
tetapi masih bisa dilihat.
Raja memberi waktu selama tiga hari
untuk menyelesaikan masalah ini,setelah Abu Nawas pulang kerumahnya, ia tidak
meras sedih karena beranggapan bahwa ini sudah menjadi tugasnya, la yakin bahwa dengan berpikir akan
mudah menyelesaikan kesulitan yang sedang dihadapi dan dengan berpikir pula
ia yakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan terutama
orang-orang miskin. Karena tidak jarang Abu Nawas menggondol sepundi penuh uang emas
hadiah dari Baginda Raja atas kecerdikannya.
Tetapi sudah dua hari Abu Nawas belum
juga mendapatkan cara untuk menangkap dan memenjarakan angin,sedangkan besok
adalah hari terakhir untuk menyelesaikan tugasnya,Abu Nawas hampir putus asa
sampai-sampai tidak bisa tidur walau hanya sebentar.
Mungkin sudah takdir,kayaknya kali ini Abu
Nawas harus menjalani hukuman karena gagal melaksanakan perintah Raja. la berjalan gontai menuju istana. Di sela-sela kepasrahannya kepada takdir
ia ingat sesuatu, yaitu Aladin dan lampu wasiatnya.
”Bukankah jin itu tidak terlihat?” Abu Nawas
bertanya kepada diri sendiri. la berjingkrak girang dan segera pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah ia secepat mungkin menyiapkan segala sesuatunya
kemudian menuju istana.
Pada saat sampai diistana ia langsung
menghadap sang Raja.
Dengan tidak
sabar Raja langsung bertanya kepada Abu Nawas. “Sudahkah engkau
berhasil memenjarakan angin, hai Abu Nawas?”
“Sudah
Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas dengan muka berseri-seri sambil
mengeluarkan botol yang sudah disumbat. Kemudian Abu Nawas menyerahkan botol
itu.
Baginda
menimang-nimang botol itu. “Mana angin itu, hai Abu Nawas?” tanya Baginda.
“Di dalam,
Tuanku yang mulia.” jawab Abu Nawas penuh takzim.
“Aku tak
melihat apa-apa.” kata Baginda Raja.
“Ampun Tuanku, memang
angin tak bisa dilihat, tetapi bila Paduka ingin tahu angin, tutup botol itu
harus dibuka terlebih dahulu.” kata Abu Nawas menjelaskan. Setelah tutup botol
dibuka Baginda mencium bau busuk.
“Bau apa
ini, hai Abu Nawas?!” tanya Baginda marah.
“Ampun
Tuanku yang mulia, tadi hamba buang angin dan hamba masukkan ke dalam botol.
Karena hamba takut angin yang hamba buang itu keluar maka hamba memenjarakannya
dengan cara menyumbat mulut botol.” kata Abu Nawas ketakutan.
Tetapi
Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masuk akal. Dan
untuk kesekian kali Abu Nawas selamat.
UNSUR UNSUR INTRINSIKNYA :
·
Tema : Semangart dan kerja
kerja
·
Tokoh :
1.
Abu Nawas
2.
Raja
· Watak/Penokohan
:
1. Abu Nawas
(protagonis)
Memiliki watak yang cerdik, tidak mudah putus asa
dan selalu berusaha untuk mengerjakan sesuatu walaupun terkadang hal itu aneh,
tidak mungkin dan sulit dilakukan.
2. Baginda Raja (antagonis)
Memiliki watak yang licik.selalu berusaha
menjatuhkan abu nawas dengan perintah-perintah anehnya terhadap Abu Nawas.
·
Latar:
1. Latar
tempat :Rumah
Abu Nawas, Istana Baginda Raja
2. Latar suasa : Tegang
· Alur : Maju karena menceritakan dari awal hingga akhir
· Sudut Pandang : Orang ketiga (pihak penulis), karena cerita tidak secara langsung terjadi namun ada pihak ketiga yang menceritakan kisah tersebut.
·
Gaya
Bahasa:
Majas Personifikasi yaitu majas yang membandingkan bahwa benda mati seolah-olah hidup.terdapat pada kata "Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin." kata Baginda Raja memulai pembicaraan. Dan pada "Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya." kata Baginda. Serta pada Abu Nawas “menggondol sepundi penuh uang emas”
·
Amanat:
Kita dalam
menyelesaikan masalah jangan pernah putus asa dan menilai diri kita bahwa tidak
mampu menyelesaikan masalah tersebut tetapi yang kita lakukan adalah selalu
bekerja keras dan berusaha menyelesaikan masalah tersebut dan juag kita sebagai
manusia jangan pernah licik dan curang kepada orang lain karena sebenarnaya
perbuatan itu akan kembali ke diri kita sendiri dan jika kita mempunyai
jabatan/wewenang yang tinggi,janganlah menggunakannya untuk menjatuhkan orang
lain atau menyusahkan orang lain.
Komentar
Posting Komentar